pisah baik-baik part 3


Bab 6: Tanggung Jawab di Atas Bahu Muda

Dunia Andrian yang dulu penuh hura-hura runtuh seketika, berganti dengan dinding kost sempit di sudut Jogja. Di usia 20 tahun, aku dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Kami menikah secara siri, sebuah janji di hadapan Tuhan untuk saling menjaga meski dunia belum tahu.

Aku memandang Nur yang perutnya kian membuncit. Penyesalan? Ada. Hancur? Pasti. Namun, setiap kali janin itu menendang dari dalam, rasa tanggung jawab mengalahkan egoku. Kami berjuang sendiri, menghemat setiap rupiah dari hasil jualan martabak demi biaya kontrol ke bidan. Kami menyimpan rahasia ini rapat-rapat, sebuah bom waktu yang kami bawa dengan rasa takut setiap kali telepon dari orang tua berdering.

Bab 7: Mukjizat di Ujung Gelisah

Ujian kembali datang di bulan kelima. Hasil pemeriksaan bidan membuat jantungku mencelos: posisi bayi sungsang. Bayangan biaya operasi sesar yang selangit menghantui setiap malam. Di tengah keputusasaan, seorang tetangga menyarankan kami ke dukun bayi legendaris di Njombor, Sleman.

Empat kali kami bolak-balik ke sana. Dengan tangan keriput namun penuh keajaiban, sang dukun bayi perlahan memutar posisi malaikat kecil kami. Keajaiban itu nyata; posisi bayi kembali normal.

22 November 2018. Tangis pecah di ruang persalinan yang sederhana. Seorang putri cantik lahir ke dunia. Kami menamainya Shanum. Nama yang indah seindah wajahnya, meski ia cukup rewel dan seolah ingin memberitahu dunia bahwa ia telah hadir.

Bab 8: Kebenaran yang Menyakitkan namun Membebaskan

Satu hari setelah Shanum lahir, aku tak sanggup lagi memikul rahasia ini. Dengan tangan bergetar, aku menghubungi kedua orang tua kami.

Momen itu tiba. Di ruang kost yang pengap, kedua orang tua kami datang. Suasana hening, hanya suara rengekan Shanum yang memecah udara. Aku melihat kekecewaan yang mendalam di mata ayahku, luka yang tak terucap di wajah ibuku. Mereka tak memaki, tak juga mengusir. Keheningan itu justru lebih menyakitkan daripada seribu makian. Aku tahu mereka malu, aku tahu mereka marah, tapi cinta mereka sebagai orang tua jauh lebih besar daripada ego mereka.

"Ikhlas... kami menerima cucu kami," ucap mereka lirih.

Sakit hati melihat mereka seperti itu, namun di saat yang sama, ada beban berat yang terangkat dari pundakku. Mereka tetap menjadi pelindung terbaikku, bahkan di saat aku telah mengecewakan mereka sedalam itu.

Bab 9: Nafas Kost-kostan dan Ego yang Berbenturan

Kehidupan setelah Shanum lahir berubah menjadi perlombaan melawan waktu. Pagi hari aku membantu Nur mengurus rumah, sore hingga tengah malam aku berjibaku dengan panasnya loyang martabak. Tidur menjadi barang mewah. Di dalam kamar kost yang sempit itu, suara tangis Shanum di malam hari sering kali menjadi pemicu ketegangan.

Nur, dengan karakter aslinya yang ceria namun galak, sering kali meledak ketika kelelahan mengurus dua anak (anak pertamanya dan Shanum). Aku pun bukan malaikat; di usia 21 tahun, terkadang aku rindu masa-masa nongkrong tanpa beban.

"Kamu pikir aku nggak capek? Aku di sini seharian, Ndri!" cetusnya suatu sore saat aku baru bangun tidur untuk persiapan berangkat kerja.

Kami sering beradu argumen tentang hal-hal sepele—dari masalah popok yang habis, hingga uang dapur yang pas-pasan. Tapi di balik kegalakannya, Nur tetaplah wanita yang dulu menungguku sampai jam 12 malam. Di tengah pertengkaran sehebat apa pun, ia selalu memastikan ada segelas teh hangat atau makanan sebelum aku berangkat ke toko.

Bab 10: Cinta di Atas Motor Butut

Ekonomi memang mencekik, tapi Nur tidak pernah menuntut kemewahan. Itulah yang membuatku selalu luluh. Sering kali, setelah gajian atau ada rezeki lebih dari tip pelanggan, aku mengajaknya dan anak-anak jalan-jalan sore.

Hanya dengan motor butut itu, kami membelah jalanan Sleman. Shanum di depan, Nur di belakang menggendong anak pertamanya. Kami tidak pergi ke mal mewah; cukup ke lapangan atau sekadar mencari angin di sekitaran Merapi. Di momen-momen seperti itu, kegalakan Nur hilang berganti tawa ceria yang dulu membuatku jatuh cinta.

"Nggak apa-apa motornya butut, yang penting nggak mogok pas bawa anak-anak," candanya sambil memeluk pinggangku erat.

Bab 11: Ujian Kesetiaan dan Masa Depan

Namun, hidup di Jogja dengan penghasilan jualan martabak mulai terasa berat seiring kebutuhan Shanum yang meningkat. Aku mulai berpikir keras, apakah selamanya aku akan menjadi pegawai martabak?

Dinamika kami bukan hanya soal cinta, tapi soal bertahan hidup. Nur sering memberikan ide-ide nekat agar kami bisa punya usaha sendiri, sementara aku tipe yang lebih berhati-hati. Perbedaan cara pandang ini sering membuat kami diam-diaman selama beberapa hari. Tapi melihat Shanum tumbuh sehat dan mulai merangkak, kami selalu diingatkan pada satu hal: kami sudah sejauh ini, tidak ada kata menyerah.

Kami adalah dua orang asing yang dipersatukan oleh kesalahan, namun diikat oleh tanggung jawab yang kini kami sebut sebagai "rumah".

capek njir ngetiknya mana dah jam 1 malem ngatuk lanjut besok aja yaa masih panjang ceritanya. awal mula runtuhnya rumah tangga ..next espisode