pisah baik baik :)

 

Jogja, 2017. malam membungkus Jalan Kaliurang dengan kehangatan malam, namun hati aku Andrian cahya diantoro terasa kosong. Dua puluh tahun usianya, baru saja menginjak angka itu bulan lalu. Dua tahun merantau di Jakarta meninggalkan jejak lelah, dan kini ia kembali ke Magelang, menganggur. Sampai tawaran itu datang, seperti angin segar di tengah kemarau.

"Gabung sama aku jualan martabak di Jogja, Yan!" ajak kakak iparnya suatu sore. Tanpa pikir panjang, Andrian menyambar kesempatan itu. Gas!

Bab 1: Aroma Martabak dan Kenakalan Malam

19 Februari 2017. Jogja menyambutku dengan hiruk pikuk khasnya. Aku dan kakak ipar langsung terjun ke dunia martabak, di sebuah toko dengan harga yang lumayan 'premium' tapi rasanya memang juara. Dua bulan berlalu, ritme kerja malam mulai terasa nyaman. Namun, lingkungan kerjaku jauh dari kata sehat. Setiap hari, asap rokok mengepul, tawa lepas, dan celotehan nakal mengisi udara. Kami, darah muda, memang doyan foya-foya. Anehnya, aku betah. Entah karena aroma martabak yang memabukkan atau karena kebebasan yang kudapat.



Bab 2: Pandangan Pertama, Percakapan Pertama

November 2017. Malam itu, toko sedang ramai, seperti biasa. Aku sibuk melayani pembeli ketika pandanganku menangkap sosok familiar. Dia, pelanggan martabak yang sering datang berdua dengan temannya. Kami sering bertatap muka, tapi tak pernah sekalipun bertegur sapa. Malam itu, entah dorongan dari mana, aku memberanikan diri.

"Kerja di mana, Kak?" tanyaku, mencoba terdengar santai. "Di depan situ, di laundry," jawabnya, suaranya lembut. Dia adalah Nur.

Percakapan kami ringan, hanya basa-basi singkat. Aku tak tahu mengapa, tapi ada sesuatu tentangnya yang menarik perhatianku. Senyumnya, mungkin? Atau sorot matanya yang tenang.



Bab 3: Tangisan di Kegelapan Malam

Beberapa minggu setelah percakapan singkat itu, sebuah pemandangan mengejutkanku. Malam itu, dalam perjalanan pulang kerja, aku melihat Nur berjalan sendirian di jalan yang sepi, menangis. Aku mendekatinya.

"Kok sendirian, Kak? Perasaan tadi lewat depan toko sama cowok," tanyaku khawatir.

Dia hanya diam, air mata terus mengalir. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi hatiku tergerak untuk menemaninya. Aku berjalan bersamanya sampai ia tiba di tempat kerjanya. Malam itu, aku pulang dengan rasa penasaran yang menggunung dan sedikit kekhawatiran untuk Nur.