"pisah baik-baik" part 4

 

Bab 12: Retakan di Balik Dinding Kost

Aku mengira badai terbesar kami adalah ekonomi dan restu orang tua. Ternyata, aku salah. Badai paling menghancurkan justru datang dari dalam rumah kami sendiri, dari orang yang paling aku perjuangkan.

Di tahun kedua pernikahan kami, gelagat Nur mulai berubah. Ponsel yang biasanya diletakkan sembarangan kini selalu digenggam erat atau disembunyikan. Senyum cerianya bukan lagi untukku atau Shanum, melainkan untuk layar ponselnya. Hingga suatu hari, sebuah pesan yang tak sengaja terbaca menghantam jantungku: Nur menjalin hubungan dengan pria lain.

"Kenapa, Nur? Kurang apa aku?" tanyaku dengan suara bergetar malam itu. Ia menangis, meminta maaf, dan berjanji tak akan mengulangi. Karena Shanum yang masih kecil, dan karena rasa cintaku yang terlalu dalam, aku memaafkannya. Aku memilih percaya pada janji palsunya.

Bab 13: Dua Tahun Menelan Belati

Namun, pengkhianatan itu seperti penyakit yang kambuh. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Selama dua tahun ke depan, hidupku seperti neraka yang berulang. Aku mendapati dia berbagi hati lagi, dan lagi.

Setiap kali aku berangkat kerja jam 4 sore untuk berjualan martabak, hatiku tidak pernah tenang. Aku selalu bertanya-tanya: Siapa yang dia hubungi saat aku sedang membanting tulang di depan loyang panas? Teman-temanku di tempat kerja mulai berbisik, lingkunganku yang dulu nakal pun seolah kasihan melihatku. Tapi aku tetap diam. Aku menelan semua rasa sakit itu sendirian. Aku pulang kerja jam 12 malam dengan tubuh lelah, hanya untuk melihatnya tidur, lalu aku duduk di sudut kamar sambil memandangi wajah Shanum yang polos. Demi anak ini, aku memaksa diriku untuk tetap sabar. Aku berusaha menjadi suami yang tetap "ada", meski hatiku sudah hancur berkeping-keping.

Bab 14: Kesabaran yang Mencapai Batas

Dua tahun aku bertahan dalam diam. Dua tahun aku pura-pura buta demi keutuhan keluarga. Aku mencoba memperbaiki hubungan, mengajaknya bicara baik-baik, bahkan memberikan perhatian lebih. Namun, pengkhianatan itu seolah menjadi candu baginya.

Aku merasa martabatku sebagai laki-laki telah diinjak-injak. Di depan orang tuaku, aku tetap berakting seolah kami baik-baik saja, padahal di dalam kost itu, hubungan kami sudah seperti mayat yang dipaksa berjalan. Aku mencintainya, tapi aku mulai sadar bahwa mencintai Nur berarti menghancurkan diriku sendiri.

Hingga tiba pada satu titik, sebuah perselingkuhan yang paling fatal terungkap. Titik di mana aku tidak lagi merasakan marah, melainkan kekosongan yang luar biasa. Aku menatap cermin dan melihat pemuda usia 22 tahun yang tampak jauh lebih dari usianya.

Bab 15: Ketika Kesabaran Dianggap Kelemahan

Dua tahun aku bertahan dalam badai, berharap Nur akan melihat pengorbananku dan kembali "pulang". Namun, harapanku pupus. Kesabaranku justru menjadi bumerang; dia mengira aku tidak akan pernah berani meninggalkannya. Dia menyepelekan harga diriku sesempurna itu.

Puncaknya, rasa malunya seolah telah hilang. Tak ada lagi sembunyi-sembunyi, tak ada lagi sandiwara. Dengan mata kepala sendiri, aku melihatnya membuka ponsel dan dengan sengaja menunjukkan isi percakapan mesranya dengan pria lain tepat di depan mukaku.

"Liat nih, dia lebih perhatian dibanding kamu yang cuma tahu jualan martabak!"

Kalimat itu, atau gestur menantang itu, rasanya lebih panas daripada percikan minyak di wajan toko tempatku bekerja. Di situ aku sadar, Nur yang dulu menungguku sampai jam 12 malam sudah mati. Yang ada di depanku hanyalah wanita yang asing, yang sudah kehilangan rasa hormat kepadaku sebagai suami dan ayah dari anaknya.

Bab 16: Mati Rasa

Anehnya, saat dia menunjukkan pengkhianatannya dengan terang-terangan, aku tidak lagi mengamuk. Tidak ada barang yang pecah, tidak ada suara teriakan yang keras. Yang ada hanyalah sunyi yang teramat sangat. Hatiku sudah terlalu hancur hingga mencapai tahap mati rasa.

Aku menatapnya dalam-dalam, lalu beralih menatap Shanum yang tidak tahu apa-apa. Selama ini aku bertahan demi anak, tapi aku mulai berpikir: Apakah sehat bagi Shanum tumbuh besar melihat ayahnya diinjak-injak dan ibunya tidak lagi menghargai arti sebuah rumah?

Aku sadar bahwa perjuanganku selama ini sendirian. Rumah tangga adalah bangunan yang butuh dua tiang untuk tegak; sementara aku berdarah-darah menahan atapnya, dia justru sibuk merobohkan fondasinya.

Bab 17: Awal dari "Pisah Baik Baik"

Malam itu, di kamar kost yang dulu menjadi saksi kelahiran Shanum dan perjuangan kita dari nol, aku mengambil napas panjang. Aku menatap motor bututku di luar, menatap sisa-sisa adonan martabak di tanganku, dan akhirnya menatap masa depanku sendiri.

Aku tahu, jika aku terus bertahan, aku akan hancur menjadi debu. Aku harus mengambil keputusan, bukan karena aku berhenti mencintainya, tapi karena aku harus mulai belajar mencintai diriku sendiri dan menjaga mental anakku.