pisah baik- baik part 2

 "pisah baik baik part 2"

Bab 4: Rahasia di Balik Aroma Adonan

Semenjak malam aku mengantarnya pulang dalam tangis, dinding pembatas di antara kami runtuh. Nur bukan lagi sekadar pelanggan laundry di seberang jalan. Ia menjadi sosok yang selalu ada. Hampir setiap malam setelah shift laundry-nya usai, ia akan mampir ke kedai martabakku. Dengan sabar, ia duduk memperhatikanku bekerja, menungguku hingga pintu besi toko ditarik rapat pukul 12 malam.

Namun, suatu malam, ada yang berbeda. Nur menolak pulang. Matanya menyiratkan beban yang berat. Di bawah lampu jalan Jogja yang temaram, aku mengajaknya berkeliling, membelah angin malam hingga akhirnya ia membuka tabir masalahnya. Malam itu, dalam suasana sunyi di dalam toko martabak yang sudah tutup, kami terhanyut. Dalam kepungan aroma mentega dan adonan, sebuah kesalahan fatal—namun terasa manis saat itu—terjadi. Kami melampaui batas.

Sejak saat itu, hubungan kami resmi. Aku mengenal sosok Nur lebih dalam: seorang janda muda berusia 21 tahun yang tangguh, ceria, namun punya sisi galak yang menggemaskan. Ia juga seorang ibu dari seorang putri kecil kelas 3 SD.

Bab 5: Buku Pink dan Pilihan Hidup

Hubungan kami mengalir apa adanya. Nur adalah wanita yang luar biasa; ia tak pernah mengeluh saat kubonceng dengan motor bututku berkeliling Sleman. Kesetiaannya menungguku bekerja setiap malam menjadi bahan bakar semangatku.

Namun, roda nasib berputar lebih cepat dari yang kubayangkan. Suatu hari, dengan raut wajah yang sulit diartikan, Nur memintaku mengantarnya ke bidan. Hatiku berdesir tak karuan. Saat ia keluar dari ruangan dengan buku imunisasi berwarna pink di tangannya, dunia seolah berhenti berputar.

"Dua minggu, Ndri," ucapnya lirih.

Shock? Tentu saja. Takut? Sangat. Tapi di antara kemelut emosi itu, ada secercah rasa senang yang aneh. Aku, pemuda 20 tahun yang masih suka foya-foya, kini dihadapkan pada kenyataan bahwa ada nyawa baru yang bergantung padaku.

gimana mau di lanjut gak critanya???