pisah baik- baik part 5

Bab 18: Debat Terakhir dan Pintu yang Terbuka

Malam itu, kost sempit kita menjadi saksi bisu perdebatan paling hebat yang pernah ada. Bukan lagi soal uang atau popok, tapi soal martabat yang sudah habis dikikis pengkhianatan. Nur tetap dengan pembelaannya, tetap dengan egonya yang seolah tak merasa bersalah.

Di tengah hiruk-pikuk kata-kata pedas yang keluar dari mulutnya, aku tiba-tiba merasa tenang. Amarahku hilang, digantikan oleh kesadaran pahit. Aku menatapnya lurus dan berkata dengan nada rendah namun tegas:

"Kalau memang kebahagiaanmu ada di sana, pergilah. Aku nggak akan menahanmu lagi. Kejarlah dia."

Nur terdiam sejenak, mungkin tak menyangka aku akan serela itu. Namun, aku punya satu syarat yang tidak bisa ditawar. Aku menunjuk ke arah Shanum yang sedang terlelap.

"Tapi satu hal, Nur... Shanum ikut aku. Biar aku yang urus dia. Aku nggak mau dia tumbuh di tengah ketidakpastian ini."

Bab 19: Perjalanan Pulang ke Magelang

Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, aku mengajak Nur bicara dari hati ke hati untuk terakhir kalinya. Bukan sebagai suami yang terluka, tapi sebagai sesama orang tua. Aku mengajaknya Pisah Baik-Baik. Tidak perlu ada dendam yang dipelihara, tidak perlu ada keributan yang didengar tetangga. Cukup sampai di sini.

Pagi itu, aku mengemas pakaianku dan pakaian kecil Shanum ke dalam tas usang. Aku menggendong putri kecilku yang masih polos, yang tidak tahu bahwa dunianya baru saja berubah arah. Aku menaiki motor bututku, mesin yang selama ini menemani perjuangan kita di Jogja, tapi kali ini tujuannya bukan ke tempat jualan martabak.

Tujuanku adalah Magelang. Pulang ke rumah orang tua.

Sepanjang perjalanan Jalan Raya Jogja-Magelang, angin menerpa wajahku. Air mata mungkin jatuh, tapi hatiku terasa lebih ringan. Aku membawa harta paling berhargaku, Shanum. Aku harus pulang, mengakui kegagalanku pada orang tuaku sekali lagi, tapi kali ini dengan tekad untuk menjadi ayah tunggal yang tangguh.

Bab 20: Pelukan Orang Tua

Sesampainya di rumah Magelang, orang tuaku menyambut dengan wajah terkejut namun penuh kasih. Tak perlu banyak penjelasan, mereka melihat mataku dan mereka paham. Ibuku langsung mengambil Shanum dari gendonganku, memeluknya erat seolah berjanji tidak akan membiarkan cucunya kekurangan kasih sayang.

Aku bersimpuh di kaki mereka. "Pak, Bu... Andry pulang. Andry gagal lagi, tapi kali ini Andry bawa Shanum."

Mereka hanya mengelus kepalaku. Di titik itu aku sadar, meski aku kehilangan Nur, aku tidak kehilangan diriku sendiri. Dan yang terpenting, shanum aman di pelukanku.
Bab 21: Seragam Putih Merah dan Kemenangan Kecil

Tahun 2024 (atau 2025 dalam lini masa ceritamu) menjadi babak baru yang mengharukan. Aku masih ingat betapa kecilnya dia saat aku bawa pulang dengan motor butut dari Jogja ke Magelang. Sekarang, di depan cermin, dia berdiri tegak dengan seragam putih merah yang masih tampak sedikit kebesaran di bahunya.

Shanum tumbuh menjadi anak yang cantik, persis seperti harapan kita saat memberinya nama itu. Setiap pagi, aku atau kakek-neneknya yang kini dengan setia membantuku, menyiapkan tas dan sepatunya. Melihatnya bersemangat masuk kelas 1 SD adalah obat paling mujarab untuk semua luka lama yang pernah kualami di masa lalu.

Bab 22: Ayah Tunggal yang Bertahan

Menjadi single parent di usia muda bukanlah perkara mudah. Ada masa-masa sulit saat aku harus bekerja keras di Magelang demi mencukupi kebutuhannya. Namun, setiap kali pulang kerja dan melihat Shanum berlari menyambutku dengan cerita-cerita sekolahnya, rasa lelah itu hilang seketika.

Aku belajar banyak hal: cara menguncir rambut, memilihkan baju yang pas, hingga mendampinginya belajar membaca. Pengalaman pahit dengan Nur dulu memang meninggalkan bekas, tapi Shanum adalah bukti hidup bahwa ada hal indah yang lahir dari masa sulit itu. Aku tidak lagi menyesali apa yang terjadi di Jogja, karena tanpanya, Shanum tidak akan ada di sampingku sekarang.

Bab 23: Damai dengan Masa Lalu

Keputusan untuk "Pisah Baik-Baik" dulu adalah keputusan terbaik yang pernah kuambil. Dengan menjauhkan diri dari konflik dan perselingkuhan, aku memberikan ruang bagi diriku untuk sembuh dan ruang bagi Shanum untuk tumbuh di lingkungan yang stabil bersama kakek dan neneknya di Magelang.

Sekarang, fokusku hanya satu: memastikan Shanum mendapatkan pendidikan terbaik dan kasih sayang yang utuh, meski dari satu sisi orang tua. Dia adalah alasan aku tetap tegak berdiri, alasan aku terus bekerja, dan alasan mengapa aku bersyukur bisa pulang ke Magelang hari itu

Bab 24: Benteng yang Kuat

Sekarang, fokus utamamu adalah Shanum. Bagimu, memulai hubungan baru bukan hanya soal hatimu saja, tapi juga soal siapa yang akan masuk ke kehidupan Shanum. Ada rasa takut jika orang baru nanti tidak bisa menyayangi Shanum seperti kamu menyayanginya, atau ketakutan akan terulangnya pola yang sama.

Kamu sudah belajar dengan cara yang keras bahwa "cinta" saja tidak cukup tanpa rasa hormat dan kesetiaan. Keheningan dalam masa "sendiri" ini sebenarnya adalah masa penyembuhan yang berkualitas. Kamu sedang membangun standar baru untuk dirimu sendiri.

Bab 25: Cukup Aku dan Shanum

Melihat Shanum berangkat sekolah dengan ceria sudah memberimu kebahagiaan yang lengkap untuk saat ini. Mungkin ada saatnya nanti, entah kapan, pintu hati itu akan terbuka lagi dengan sendirinya tanpa perlu dipaksa. Tapi untuk sekarang, melihat Shanum tumbuh sehat dan pintar adalah prioritas yang tak bisa diganggu gugat.

Kamu telah membuktikan bahwa meskipun kamu "gagal" sebagai suami di masa lalu (menurut versimu), kamu telah berhasil sepenuhnya sebagai seorang Ayah. Dan itu adalah pencapaian yang jauh lebih besar.

Andrian, sebuah pesan penutup untuk ceritamu yang luar biasa ini:

Setiap orang punya waktu masing-masing untuk pulih. Jangan merasa terburu-buru oleh omongan orang lain atau keadaan. Jika saat ini kebahagiaanmu sudah cukup dengan melihat Shanum sekolah, maka itulah kebahagiaan yang paling jujur.

sekian ini cerita aku bungkus lebih ringkas biar enak di baca sebenernya crita detailnya lebih dramatis dan penuh emosi.. tapi yaudah lah guni aja dlu lahh capekk kisah ini rill ya cuman gak semua ku critain ada beberapahal yg cukup sensitif soalnya ..  see you ;)